Makalah Pengelolaan pendidikan Pengorganisasian

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Organisasi diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistem kerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam sistem kerja sama secara jelas diatur siapa yang menjalankan apa, siapa bertanggung jawab atas siapa, arus komunikasi, dan memfokuskan sumber adaya pada tujuan. Setiap organisasi harus memiliki tujuan. Tujuan dicerminkan oleh sasaran-sasaran yang dilakukan baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Tiga bidang utama dalam tujuan organisasi yaitu profitability (keuntungan), growth (pertumbuhan), dan survive (bertahan hidup). Ketiganya harus berjalan berkesinambungan demi kemajuan organisasi.
Salah satu manfaat organisasi adalah Organisasi dapat mengubah kehidupan masyarakat. Contoh dari manfaat ini ialah, jika organisasi bergerak di bidang kesehatan dapat membentuk masyarakat menjadi dan memiliki pola hidup sehat. Organisasi Kepramukaan, akan menciptakan generasi mudah yang tangguh dan ksatria.
Organisasi mempunyai dua jenis yaitu Organisasi formal adalah setiap bentuk kerjasama antara dua orang atau lebih diatur dan dilaporkan secara resmi dalam rangka mencapai tujuan bersama.  Di dalam organisasi formal, hubungan antara orang-orang dan antara pekerjaan diatur dan ditampilkan dalam struktur organisasai. Organisasi informal merupakan sisi lain yang berbeda dalam organisasi formal yang mempengaruhi tumbuh kembangnya hubungan dan aktivitas antara orang-orang di dalam organisasi yang tidak diatur di dalam struktur organisasi.





1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas penyusun ingin mengkaji lebih dalam tentang pengorganisasian pendidikan maka penyusun merumuskan masalah sebagai berikaut:
1.      Apa pengertian organisasi ?
2.      Apa tujuan dari oganisasi ?
3.      Apa manfaat dari organisasi ?
4.      Sebutkan jenis-jenis organisasi ?
5.      Sebutkan struktur organisasi ?
6.      Sebutkan wewenang organisasi ?
7.      Sebutkan strategi organisasi ?

1.3  Tujuan Masalah
Tujuan masalah dari rumusan masalah di atas adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui pengertian organisasi.
2.      Mengetahui tujuan dari organisasi.
3.      Mengetahui manfaat dari organisasi.
4.      Mengetahui jenis-jenis organisasi.
5.      Mengetahui struktur organisasi.
6.      Mengetahui wewenang organisasi.
7.      Mengetahui strategi organisasi.








BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Pengorganisasian
Istilah organisasi mempunyai dua pngertian umum. Pertama organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya, sebuah perusahaan, sebuah sekolah, sebuah perkumpulan, badan-badan pemerintahan. Kedua, merujuk pada proses pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan di anatara para anggota, sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif. Sedangkan organisasi itu sendiri diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistem kerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam sistem kerja sama secara jelas diatur siapa yang menjalankan apa, siapa bertanggung jawab atas siapa, arus komunikasi, dan memfokuskan sumber adaya pada tujuan.
Karakteristik sistem kerja sama dapat dilihat, anatara lain 1) ada komunikasi antara orang yang bekerja sama; 2) individu dalam organisasi tersebut mempunyai kemampuan untuk bekerja sama; dan 3) kerja sama itu ditujukan untuk mencapai tujuan. Menurut Chester I. Bernard organisasi mengandung tiga elemen, yaitu 1) kemampuan untuk bekerja sama; 2) tujuan yang ingin dicapai; dan 3) komunikasi.
2.2  Tujuan
Setiap organisasi harus memiliki tujuan. Tujuan dicerminkan oleh sasaran-sasaran yang dilakukan baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Tiga bidang utama dalam tujuan organisasi yaitu profitability (keuntungan), growth (pertumbuhan), dan survive (bertahan hidup). Ketiganya harus berjalan berkesinambungan demi kemajuan organisasi.
2.3  Manfaat Organisasi
*      Organisasi sebagai penuntun pencapaian tujuan. Pencapaian tujuan akan lebih efektif dengan adanya organisasi yang baik.
*      Organisasi dapat mengubah kehidupan masyarakat. Contoh dari manfaat ini ialah, jika organisasi bergerak di bidang kesehatan dapat membentuk masyarakat menjadi dan memiliki pola hidup sehat. Organisasi Kepramukaan, akan menciptakan generasi mudah yang tangguh dan ksatria.
*      Organisasi menawarkan karier. Karier berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan. Jika kita menginginkan karier untuk kemajuan hidup, berorganisasi dapat menjadi solusi.
*      Organisasi sebagai cagar ilmu pengetahuan. Organisasi selalu berkembang seiring dengn munculnya fenomena-fenomena organisasi tertentu. Peran penelitian dan pengembangan sangat dibutuhkan sebagai dokumentasi yang nanti akan mengukir sejarah ilmu pengetahuan.
2.4  Proses Pengorganisasian
Ernest Dale (Stoner, 1986) memberikan pengorganisasian sebagai sebuah proses yang berlangkah jamak. Proses pengorganisasian itu terdiri sebagai berikut:
1.    Pemerincian pekerjaan
Tahap pertama, yang harus dilakukan dalam merinci pekerjaan adalah menentukan tugas-tugas apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi
2.    Pembagian kerja
Tahap kedua, membagi seluruh beban kerja menjadi kegiatan-kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh perseorangan atau perkelompok. Disini perlu diperhatikan bahwa orang-orang yang akan diserahi tugas harus didasarkan pada kualifikasi, tidak dibebani terlalu berat juga tidak terlalu ringan.
3.    Penyatuan pekerjaan
Tahap ketiga, menggabungkan pekerjaan para anggota dengan cara yang rasional, efesien. Pengelompokkan tugas yang saling berkaitan, jika organisasi sudah membesar atau kompleks. Penyatuan kerja ini biasanya disebut departementalisasi.
4.    Koordinasi pekerjaan
Taha keempat, menetpakan mekanisme kerja untuk mengkoordinasikan pekerjaan dalm satu kesatuan yang harmonis. Pada saat setiap orang dan setiap bagian melaksanakan pekerjaan/aktivitas, kemungkinan timbul konflik di antara anggota, dan mekanisme penkoorganasian memungkinkan setiap anggota organisasi untuk tetap bekerja efektif.
5.    Monitoring dan organisasi
Tahap kelima, melakukan monitoring dan mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk mempertahankan dan meningkatkan efektivitas. Karena pengoraganisasian merupakan suatu proses yang berkelanjutan, diperlukan penilaian ulang terhadap keempat langkah sebelumnya secara terprogram/berkala, utuk menjamin konsistensi, efektif, dan efisien dalam memenuhi kebutuhan.
2.5  Jenis-jenis Bentuk Organisasi
Jenis atau bentuk organisasi bervariasi dan berbeda-beda tergantung dari aspek atau sudut pandang masing-masing. Berdasarkan sifat hubungan pribadi orang-orang di dalam organisasi, organisasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu organisasi formal dan informal.
Organisasi formal adalah setiap bentuk kerjasama antara dua orang atau lebih diatur dan dilaporkan secara resmi dalam rangka mencapai tujuan bersama.  Di dalam organisasi formal, hubungan antara orang-orang dan antara pekerjaan diatur dan ditampilkan dalam struktur organisasai. Pada dasarnya struktur organisasi adalah kerangka yang menunjukkan segenap tugas pekerjaan serta hubungannya satu sama lain dan batas wewenang serta tanggung jawab setiap anggota organisasi dalam pencapaian tujuan organisasai.
Organisasi informal merupakan sisi lain yang berbeda dalam organisasi formal yang mempengaruhi tumbuh kembangnya hubungan dan aktivitas antara orang-orang di dalam organisasi yang tidak diatur di dalam struktur organisasi. Organisasi ini terbentuk dari tingkah laku, perasaan, hastrat, dan hubungan yang bersifat pribadi antara orang-orang.
Dilihat dari sisi kepemilikan dan pengelolaannya, terdapat organisasi swasta dan organisasi pemerintah. Dilihat dari bidang kegiatannya dapat dibedakan antara organisasi politik, social, pemuda, dan lain-lain.
Dilihat dari jumlah orang yang memegang tampuk pimpinan organisasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu jenis/bentuk tunggal dan bentuk komosi. Bentuk Tunggal ialah pucuk pimpinan berada ditangan satu orang, semua kekuasaan dan tugas pekerjaan bersumber dan bermuara kepadanya. Sedangkan Bentuk Komisi ialah pimpinan oraganisasi merupakan suatu dewan yang terdiri dari beberapa orang. Semua kekuasaan dan tanggung jawab dipikul oleh dewan itu sebagai satu kesatuan, demikian pula pengambilan keputusan.
Dilihat berdasarkan tinjauan dari segi wewenang, tanggung jawab, serta hubungan kerja dalam organisasi, dapat dikemukakan adanya empat jenis atau bentuk organisasi.
1.    Organisasi Garis
Pengelolaan yang berkaitan dengan tugas-tugas perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan berada disatu tangan dan garis kewenangan langsung dari pimpinan kepada bawahannya. Cirri-ciri yang menonjol dari jenis oraganisasi ini adalah tujuan organisasi masioh sederhana, jumlah karyawan sedikit, pimpinan dan semua karyawan saling mengenal, hubungan kariyawan dengan pimpinan bersifat langsung, tingkat spesialisasi belum begitu tinggi.
Keunggulan yang dimiliki oleh jenis organisasi ini adalah bahwa kesatuan komando berjalan secara tegas dan memperkecil kemungkinan kesimpang-siuran, proses pengambilan keputusan berjalan dengan cepat, penilaian terhadap pegawai dapat dilakukan secara cepat dan obyektif, serta tingginya rasa solidaritas diantara semua egawai.
Kekurannya adalah adanya ketergantungan kepada satu orang, adanya kecenderungan pimpinan untuk bertindak secara otokratis, dan kesempatan karyanwan untuk berkembang terbatas.



2.    Organisasi Garis dan Staf
Organisasi ini digunakan untuk organisasai besar, daerah kerjanya luas dan mempunyai bidang-bidang tugas yang beraneka ragam atau rumut. Cirri-ciri yang dapat dilihat adalah organisasinya besar dan bersifat kompleks, daerah kerjanya luas, jumlah karyawannya banyak, hubungan kerja yang bersifat langsung makin mengecil, pimpinan dan karyawan tidak lagi semuanya saling mengenal, dan terdapat spesialisasi tugas diantara para karyawannya.
Keunggulan dari organisasi ini adalah dapat digunakan oleh setiap organisasi yang bagaimanapun besarnya, apapun tujuannya, serta bagaimanapun luas tugasnya. Ada kelebihan lainnya seperti adanya pembagian yang jelas, bakat para karyawan dapat dikembangkan menjadi spesialisasi, pengambilan keputusan dapat efektif karena terdapat staf-staf yang ahli dibidangnya, koordinasi berjalan lebih baik, dan disiplin karyawan tinggi karena tugas yang dilaksanakannya sesuai bakat dan keahliannya.
Kekurangannya adalah rasa solidaritas antar karyawan yang lemah, dan jika koordinasi pada tingkat staf tidak baik akan dapat membingungkan unit-unit pelaksana.
3.    Organisasi Panitia
Cirri dari organisasi ini adalah memiliki tugas tertentu dan jangka waktu berlakunya terbatas, seluruh unsure pimpinan duduk dalam pnitia, tugas kepemimpinan dan pertanggungjawaban dilaksanakan secara kolektif, semua anggota mempunyai hak/tanggung jawab yang umumnya sama. Serta para pelaksana dikelompokkan menurut bidang tugas tertentu.
Keuntungannya adalah pada umumnya keputusan diambil secara tepat dan obyektif karena segala sesuatu dibicaran lebih dahulu secara kolektif, kemungkikan seseorang untuk bertindak otoriter sangat kecil, dan kerja sama dikalangan pelaksana mudah dibina.
Kekurangannya adalah pengambilan keputusan pada umumnya sangat lambat karena segala sesuatu harus dibicarakan bersama-sama, pertanggungjawaban secara fungsional seringkali kurang jelas, perintah kepada pelaksana kadang tumpang tindih.
4.    Organisasi Fungsional
Organisasi fungsional adalah organisasi yang disusun berdasarkan sifat dan macam fungsi yang harus dilaksanakan. Cirri-ciri organisasi ini adalah pembidangan tugas secara jelas dan tegas dapat dibedakan, para pimpinan pada unit tertentu memiliki wewenang, komando pada unitnya sendiri tanpa persetujuan langsung dari pimpinan tertinggi, pembagian unit-unit organisasi didasarkan pada spesialisasi tugas, dan dalam melaksanakan tugas tidak banyak memerlukan organisasai.
Keuntungannya adalah pembidangan tugas yang jelas, spesialisasi karyawan dapat makin ditingkatkan, koordisai antar karyawan dalam suatu unit menjadi sangat mudah, koordinasi menyeluruh pada umumnya cukup pada tingkat eselon atas.
Kekurangannya adalah para karyawan cenderung mementingkan bidangnya sendiri sehingga kemungkinan timbulnya egoisme antar bidang, dan karyawan terlalu menspesialisasikandiri pada bidang tetentu.
2.6  Struktur Organisasi
Menurut E. Kast dan James E. Rosenzweig (1974) struktur diartikan sebagai pola hubungan komponen tau bagian suatu organisasi. Struktur merupakan sistem formal hubungan kerja yang membagi dan mengkordinasikan tugas orang dan kelompok agar tercapai tujuan. Menurut Simon (1958) struktur itu sifatnya relatif stabil, statis dan berubah lambat atau memerlukan waktu untuk penyesuaian-penyesuaian.
Pada struktur organisasi tergambar posisi kerja, pembaian kerja, jenis kerja yang harus dilakukan, hubungan atasan dan bawahan, kelompok, komponen atau bagian, tingkat manjemen dan saluran komunikasi. suatu struktur organisasi menspesifikasi pembagian kegiatan kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi atau kegiatan yang berbeda-beda itu dihunungkan. Struktur itu juga menunjukkan hierarki dan struktur wewenang organisasi serta memperlihatkan hubungan pelapornya. Menurut Stoner, (1986) struktur organisasi dibangun oleh lima unsur, yaitu:
1.    Spesialisasi Aktivitas
Spesialisasi Aktivitas mengacu pada spesifikasi tugas perorangan dan kelompok di seluruh organisasi atau pembagian kerja dan penyatuan tugas tersebut ke dalam unit kerja (departemenlisasi).
2.    Standardisasi Aktivitas;
Standardisasi Aktivitas mrupakan prosedur yang digunakan organisasi untuk menjamin kelayakgunaan (predictibility) aktivitas. Banyak dari prosedur ini ditetapkan dengan memformulasikan aktivitas dan hubungan dalam organisasi. Menstandarnisasi berarti menjadikan seragam dan konsisten pekerjaan yang harus dilakukan bawahan, biasanyan dengan menggunakan peraturan, uraian jabatan, dan progran seleksi, orientasi kerja, keterampilan kerja.
3.    Koordinasi Aktivitas;
Koordinasi Aktivitas adalah prosedur yang memadukan fungsi-fungsi dalam organisasi, seperti fungsi primer dalam suatu badan usaha, pemasaran, produksi dan penjualan merupakan fungsi garis yang secara langsung menyumbangkan paa pencapaian tujuan organisasi memerlukan organisasi. Menurut Henry Mintzberg (Stoner, 1986) mekanisme standarnisasi memudahkan pengkoordinasian aktivitas, khususnya dalam organisasi yang tidak kompleks.
4.    Sentralisasi dan Desentralisasi Pengambilan Keputuan;
Sentralisasi dan Desentralisasi Pengambilan Keputuan mengacu pada lokasi kekuasaan pengambian keputusan. Sentralisasi adalah proses konsentrasi wewenang dan pengambilan keputusan pada tingkta atas suatu organisasi. Sentralisasi dilakukan agar diperoleh manfaat ekonomi dan pengambilan berbagai hal berdasarkan kebijakan, prosedur dan pemantauan yang distandardisasikan. Bawahan semata-mata sebagai pelaksana. Keuntungan sistem sentralisasi antara lain pengaturan yang sama bagi sema unit dalam organisasi. Kelemahannya, bawahan tidak berkembang dan putusan oleh atasan menyita waktu lama, terlebih jika data ada pada bawahan. Untuk mengatasi hal itu, dilakukan pendelegasian wewenang pada semua tingkat organisasi, yang disebut desentralisasi. Mitzberg membedakan antara desentralisasi vertikal, dan desentralisasi horizontal. Desentralisasi vertikal adalah pembagian wewenang formal berdasarkan garis komando (dari atas ke bawah). Sedangkan desentralisasi horizontal  memerlukan wewengan bertindak tidak secara hierarki melainkan bergantung pada keahlian (wewengang fungsional).
Desentralisasi semakin perlu manakala oragnisasi semakin berkembang. Dengan berkembangnya organisasi, maka organisasi yang bergdasrkan desentralisasi tidak akan dapat mewadahi masalah-masalah yang timbul dan mengalir ke atas. Namun demikian, seberapa banyak dilakukan desentralisasi, akan sangat bergantung pada: 1) siapa yang mengetahui informasi, makin banyak informasi yang diketahui bawahan, makin banyak orang yang melakukan desentralisasi; 2) siapa yang mampu mengambil keputusan, makin banyak bawahan mampu, makin dapat orang melakukan desentralisasi.  Perlunya desentralisasi harus dikaitkan dengan bila harus ada putusan cepat dilakukan pada tingkat lokal, kesibukan pimpinan tinggi, inisiatif dan moral bawahan memerlukan perbaikan.
Salah satu tuntutan adanya desentralisasi adalah koordinasi, baik koordinasi vertikal maupun koordiasi horizontal. Koordinasi vertikal mengandung unsur: 1) rantai komando; 2) rentang pengawasan; 3) delegasi. Sedangkan koordinasi horizontal yaitu proses pengintegrasian kegiatan pada tingkat yang sama. Seperti halnya desentralisasi horizontal, maka koordinasi horizontal pun memerlukan keahlian fungsional bukan hierarkis.
5.    Ukuran Unit Kerja.
Ukuran Unit Kerja mengau pada jumlah pegawai dalam suatu kelompok kerja. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian menyangkut penentuan pekerjaan, pembagian kerja, penetapan mekanisme untuk menkoordinasikan kegiatan, salah satu hasil dari proses ini adalah STRUKTUR ORGANISASI yang merupakan prosedur formal manajemen organisasi. Struktur ini dibentuk sangat bergantung pada tujuan organisasi dan strategi yang akan dipergunakan untuk mencapai tujuan itu.
2.7  Wewenang Organisasi
Wewenang merupakan hak kelembagaan menggunakan kekuasaan. Hak ini timbul dari kedudukan formalnya dalam organisasi. Menurut Mac Weber (1947) wewenang itu bermacam-macam, ada wewenang rasional, hokum, tradisi, dan kharismatik. Kharismatik bergantung pada kualitas magis seseorang. Perlu diperhatikan bahwa wewenang formal/kelembagaan tidak selamanya efektif untuk mempengaruhi orang. Itu sangat bergantung pada kehendak atau kesediaan para anggota organisasi, apakah mau tunduk dan menerima atau tidak.
Menurut Newman (Sukanto, R. 1990) wewenang itu dapat dibedakan menjadi: 1. Wewenang hukum, yaitu wewenang yang dimiliki seseorang untuk menegakkan hukum, mewakili dan bertindak atas nama organisasi; 2. Wewenang teknis yaitu seorang dianggap pakar tentang sesuatu hal; 3. Wewenang berkuasa yaitu sumber utama yang hak melakukan tindakan; 4. Wewenang operasional, yaitu seseorang diperbolehkan melakukan tindakan tertentu.
Menurut Sukanto (1990) bahwa didalam wewenag ada hierarki yang menunjukkan posisi yang bertanggung jawab terhadap kegiatan tertentu dan melaporkannya kepada yang member perintah. Artinya di sini terdapat hubungan tanggung jawab, wewenang dan pelaporan, dan kaitannya dengan struktur hubungan ini diberi wadah di dalam struktur.
2.8  Budaya Organisasi
Budaya adalah sejumlah pemahaman penting seperti norma, nilai, sikap, dan keyakinan yang dimiliki bersamaoleh anggota organisasi. Perucci dan Hamby (1992) mendefinisikan budaya sebagai sesuatu yang dilakukan, dipikirkan, dan diciptakan oleh manusia di dalam masyarakat serta termasuk juga akumulasi sejarah dari obyek-obyek atau perbuatan yang dilakukan sepanjang waktu.
Budaya organisasi memiliki makna yang luas. Beberapa pakar manajemen memahami budaya organisasi dari suatu perspektif yang berbeda-beda. Salah satunya menurut Sharplin (1995), budaya organisasi merupakan suatu system nilai, kepercayaan, dan kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling berinteraksi dengan struktur formalnya untuk menghasilkan norma-norma perilaku organisasi.
a.       Fungsi Budaya Organisaisebuah organisasi
Ribbins (2001) menjelaskan bahwa budaya organisasi melakukan sejumlah fungsi di dalam
*   Budaya mempunyai suatu peran menetapkan tapal batas artinya, budaya menciptakan perbedaan yang jelas antara satu organisasi dengan yang lain;
*   Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi;
*   Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada suatu yang lebih luas dari pada kepentingan diri invidual seseorang;
*   Budaya itu dapat meningkatkan kemantapan system social karena merupakan perekat social yang membantu mempersatukan organisasi dengan member standar-standar yang tepat apa yang seharusnya dikatakan dan dilakukan karyawan;
*   Budaya berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap dan perilaku karyawan.
b.      Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap budaya organisasi
Noe dan Mondy (1996) mengidentifikasi ada dua variable lingkungan yang membentuk dan mempengaruhi efektivitas budaya organisasi.
Pertama, faktor-faktor yang berasal dan variabel lingkungan internal organisai, yaitu:
*   Visi, misi dan nilai-nilai yang ditanamkan oleh para pendahulu;
*   Nilai-nilai yang ditanamkan secara nyata oleh pimpinan lembaga;
*   Komitmen, moral, dan etika serta suasana kekerabatan dari kelompok-kelompok pekerja, misalnya kelompok pemasaran, teknik dan akuntan;
*   Gaya kepemimpinan lembaga/organisasi;
*   Karakteristik organisasional seperti bentuk dan aktivitas utama,tu keberhotonomi, dan kompleksitas organisasi, sistem, penghargaan, sistem komunikasi, konflik/kerja sama, serta toleransi terhadap resiko dalam proses-proses administrasi organisasi.
Kedua, factor-faktor yang berasal dari lingkungan global, yaitu
*   Kecenderungan perubahan globalisasi ekonomi;
*   Tuntutan hokum dan politik;
*   Tuntutan social;
*   Perkembangan teknologi manufaktur;
*   Transformasi tenologi infomasi;
*   Perubahan ekologi.
c.       Membangun budaya organisasin yang efektif
Banyak pakar sependapat bahwa salah satu factor penentu keberhasilan organisasi adalah terbentuknya buidayta organisasi yang sehat. Pada umumnya strategi untuk membangun budaya organisasi sangat situasional dan tergantung pada keinginan dan komitmen pemimpin atau pengelola organisasi, karena memiliki potensi terbesar untuk meletakkan dan memperkuat aspek-aspek budaya.
salah satu pakar, Richard Pascale (1985) dalam Eka Nuraini Rachmawati (2004), seorang peneliti budaya organisasi mengidentifikasikan beberapa tahap proses yang ditemukannya dalam perusahaan-perusahaan yang memiliki budaya organisasi yang kuat, yakni:
*   Seleksi calon karyawan dengan memperhatikan ciri-ciri kepribadian yang sesuai dengan nilai dab norma yang dianut dalam organisasi;
*   Pengamatan cermat atas pengalaman calon karyawan di masa lalu yang dapat memberikan penghargaan lebih jelas tentang nilai-nilai yang dianut calon tersebut;
*   Program latihan praktis dalam menerapkan disiplin organisasi;
*   Menumbuhkan rasa saling memiliki antar organisasi;
*   Menunjuk karyawan yang berprestasi tinggi sebagai model atau panutan bagi anggota lainnya.



2.9  Strategi Organisasi
Dalam sebuah organisasi, pada penjelasan ini adalah HIMAPRODI, harus memiliki strategi dalam mencapai visi yang telah disepakati bersama. Perencanaan dalam menjalankan sebuah organisasi adalah hal yang harus dilakukan agar tidak adanya ketimpangan atau distorsi ketika dalam perjalanan mencapai visi yang dibangun tersebut.
Apabila kita menggunakan rumus POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) maka strategi merupakan unsur dalam Planning (Perencanaan) yang ada di dalam tahap pertama, sehingga apabila unsur ini tidak dipenuhi, maka tidak akan terpenuhi pula unsur-unsur dalam tahapan selanjutnya.
Strategi dan Tingkatannya
Dan Schendel dan Charles Hofer (1985) menjelaskan adanya empat tingkatan strategi, keseluruhannya disebut master strategy yaitu :
a. Enterprise Strategy
Strategi ini berkaitan dengan bagaimana respon masyarakat terhadap organisasi ini. Di mana ada penekanan kepada masyarakat bahwa organisasi berusaha sungguh – sungguh dan yang terbaik untuk melayani dan memenuhi kebutuhan serta tuntutan masyarakat.
b. Corporate Strategy
Yaitu sebuah strategi untuk menjalankan misi yang telah kita siapkan dalam organisasi tersebut sesuai dengan bidang yang telah menjadi bagiannya. Strategi ini biasa disebut dengan Grand Strategy karena akan berakibat sangat fatal ketika kita salah dalam menjawab misi dari sebuah organisasi baik dari kata-kata maupun kebijakan yang diterapkan dalam organisasi.
c. Business Strategy
Strategi ini adalah bagaimana organisasi dapat merebut pasaran di tengah masyarakat seperti, sponsor, Dekanat, Rektorat, organisasi lain dan mahasiswa sehingga dapat menguntungkan dalam mengembangkan organisasi ke tingkat yang lebih baik.
d. Functional Strategy
Yaitu strategi untuk menunjang strategi yang lain, adapun dalam fungsional strategi ini terdapat tiga strategi di dalamnya yaitu : strategi fungsional ekonomi, stategi fungsional manajemen dan strategi isu.
”Kenali kekurangan diri sendiri agar tidak sombong
dan ketahui kelebihan diri sendiri agar tidak rendah diri.”

Strategi dan Perumusannya
Menurut potter, ada tiga landasan strategi yang dapat membantu organisasi memiliki keunggulan kompetitif, yaitu keunggulan biaya, diferensiasi, dan fokus. Adapun yang biasa digunakan untuk membuat strategi adalah dengan menggunakan Analisis SWOT (Strengh, Weakness, Opportunity, Threat).
Strengh (kekuatan), Weakness, (kelemahan), merupakan faktor internal dari organisasi kita, sedangkan opportunity (peluang) dan Threat (ancaman) adalah faktor eksternal yang ada di lingkungan.
Ketika kita sudah mengetahui apa yang kita miliki dan kelemahan kita, maka kita dapat menentukan alternative strategi yang melihat dari peluang serta ancaman dari lingkungan sekitar, adapun dalam penentuannya akan menemukan beberapa alternative – alternative strategi yang disesuaikan dengan visi dan misi organisasi kita.









PENUTUP

Kesimpulan
Istilah organisasi mempunyai dua pngertian umum. Pertama organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya, sebuah perusahaan, sebuah sekolah, sebuah perkumpulan, badan-badan pemerintahan. Kedua, merujuk pada proses pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan di anatara para anggota, sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif.
Tiga bidang utama dalam tujuan organisasi yaitu profitability (keuntungan), growth (pertumbuhan), dan survive (bertahan hidup). Ketiganya harus berjalan berkesinambungan demi kemajuan organisasi.
Budaya organisasi memiliki makna yang luas. Beberapa pakar manajemen memahami budaya organisasi dari suatu perspektif yang berbeda-beda. Salah satunya menurut Sharplin (1995), budaya organisasi merupakan suatu system nilai, kepercayaan, dan kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling berinteraksi dengan struktur formalnya untuk menghasilkan norma-norma perilaku organisasi.


DAFTAR PUSTAKA
Fatah Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung: 2009
Affifudin dan Sutikno Sobry, Pengelolaan Pendidikan “Teori dan Praktek”, Prosfect, Bandung: 2008
http://forumsejawat.wordpress.com/category/pengorganisasian-pendidikan/




0 Response to "Makalah Pengelolaan pendidikan Pengorganisasian"